Mencari Jalannya Syukur: Refleksi tentang Tanda-Tanda Alam dan Hati yang Terlatih Menghargai

Oleh: Budi Muhaeni

Dalam perjalanan hidup, kita sering kali lupa bahwa alam semesta ini penuh dengan tanda-tanda yang
bertebaran seperti serpihan cahaya – mengajar, menegur, menguatkan, dan pada akhirnya mengarahkan kita pada satu hal yaitu Syukur. Kita berjalan melewati pagi yang tidak pernah absen, hujan yang turun tepat waktu, dedaunan yang tumbuh tanpa perlu kita perintah, dan napas yang keluar masuk tanpa tiket atau langganan bulanan. Semuanya hadir sebagai pengingat halus bahwa hidup ini bukan kebetulan. Ada desain yang luar biasa, ada Sang Pencipta yang mengatur, memelihara, sekaligus menguji.

Dan di tengah semua itu, kita diminta untuk tetap menjadi orang baik, bukan sekali dua kali, bukan
saat mood sedang bagus, tetapi secara konsisten. Karena di balik setiap kebaikan, ada harapan besar
yang kita titipkan, yakni harapan bahwa kehidupan setelah mati, kehidupan panjang tanpa akhir yang akan menyambut kita dengan kebaikan pula. Surga tidak pernah dijanjikan untuk mereka yang asal-asalan. Ia dijanjikan untuk mereka yang tetap baik meski diuji, tetap lurus meski diterpa badai.

Dengan kesadaran itu, wajar jika kita mengerahkan segala upaya untuk hal-hal yang bisa membawa
kita pada kebahagiaan abadi. Kita belajar, memperbaiki diri, menahan diri dari hal-hal yang menyesatkan, menjauhi jalan-jalan gelap yang mungkin menggagalkan tujuan besar hidup kita. Kita
tidak ingin tersandung oleh sesuatu yang sepele lalu kehilangan sesuatu yang kekal. Dan pada saat
yang sama, kita ingin menggenggam setiap peluang yang bisa mengangkat derajat, memperhalus
akhlak, mengetuk pintu surga.

Sampai pada titik ini, kita paham bahwa alam semesta ini tidak berdiri sendiri. Ia dibuat, dijaga, disetir
oleh Allah Tuhan seluruh jagat raya. Kita manusia bukan hanya dititipkan makhluk lain dan lingkungan alam; kita juga diciptakan untuk melewati ujian agar kelak hanya manusia terbaiklah yang
mendapatkan reward yang tidak pernah rusak: hidup bahagia yang kekal, tanpa sedih, tanpa sakit,
tanpa kerepotan. Lalu apa kunci yang diminta oleh Sang Pencipta?

Syukur.
Satu perintah yang sederhana, tetapi fenomenal.

Alloh tidak meminta kita menghitung satu per satu nikmat-Nya, karena itu mustahil. Yang diminta adalah mensyukurinya, mewujudkannya lewat lisan yang memuji, perbuatan yang baik, dan hati yang selalu sadar bahwa segala sesuatu datang dari-Nya.

Secara teori kedengarannya mudah. Dalam kondisi normal, saat hidup terasa manis, rezeki lancar, tubuh sehat, relasi hangat, bersyukur adalah sesuatu yang otomatis. Bahkan tanpa kita sadari, ucapan
“Alhamdulillah” bisa keluar hanya sebagai refleks. Tapi, bagaimana dengan saat hidup tidak berjalan
sesuai rencana? Saat kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan? Saat usaha terasa berat, doa belum terjawab, atau ketika ujian datang bertubi-tubi?

Di titik itulah syukur diuji. Di momen seperti itu kita sering goyah, menggerutu, mengeluh, mempertanyakan, bahkan ada yang hampir putus asa. Syukur seolah hilang arah. Padahal justru di saat seperti itulah nilai syukur diukur.

Maka muncullah satu tips sederhana tetapi sangat powerful dalam perjalanan batin:
Mengubah kalimatnya menjadi mencari jalannya syukur.”

Sekilas terdengar sama, tetapi sesungguhnya berbeda jauh. Bersyukur biasanya bersifat reaktif, ada
nikmat, kita bersyukur; tidak ada nikmat, kita diam. Tetapi mencari jalannya syukur bersifat aktif. Ada
usaha ekstra, bahkan ketika tidak ada apa-apa. Bahkan ketika hati sedang lelah.

Saat kita mencari jalan syukur, kita tidak menunggu peristiwa menyenangkan datang. Kita actively
scanning, mencari celah, alasan, bukti bahwa Tuhan masih memberkati hidup kita.

Misalnya seseorang berdoa agar diterima bekerja di BUMN. Ia sudah berusaha maksimal, berharap
besar, dan menanti dengan penuh harap. Namun setelah pengumuman keluar, ia belum diterima. Pada fase ini, mudah sekali untuk kecewa, menyalahkan diri, bahkan merasa doa tidak didengar. Tetapi bagi orang yang mencari jalannya syukur, narasinya berubah.

Ia akan mencari alasan untuk tetap bersyukur:
Bahwa ia masih diberi kesehatan.
Masih memiliki pancaindra yang lengkap dan normal.
Masih punya keluarga yang menguatkan.
Masih diberi kesempatan mencoba lagi.
Masih bisa belajar dari pengalaman.
Masih punya hari esok yang belum ditentukan buruknya.

Di antara semua hal yang tampak biasa, ia menemukan alasan untuk tetap tersenyum pada kehidupan. Inilah seni mencari jalan syukur, melatih mata untuk melihat nikmat, melatih hati untuk menyadari bahwa Allah tidak pernah berhenti memberi, meski bentuknya tidak sesuai dugaan kita.

Dengan cara pandang ini, syukur menjadi sesuatu yang hidup, bukan rutinitas. Ia menjadi energi yang
mendewasakan. Ia membuat kita gagah menghadapi takdir, lapang menerima hasil, dan tetap hangat
mencintai hidup meski jalannya tidak selalu mulus.

Jadi, mari kita geser lensa cara kita memandang hidup. Jangan hanya bersyukur ketika ada alasan.
Tetapi carilah jalannya syukur dalam setiap keadaan, bahkan dalam kekosongan, bahkan dalam
ujian, bahkan dalam sesuatu yang tampak tidak ideal.

Karena ketika kita sibuk mencari jalan syukur, sebenarnya yang kita temukan bukan hanya alasan
untuk berterima kasih, tetapi juga ketenangan, keikhlasan, dan kematangan yang menjadi bekal kita
menuju kehidupan abadi yang dijanjikan Tuhan.

Selamat mencoba.

Exit mobile version