Oleh: Budi Muhaeni
Iman adalah permata langit yang tak bisa dibeli dengan isi dunia. Di tengah badai kehidupan,
empat tali utama ini adalah penyelamat agar cahaya hidayah tak padam hingga akhir hayat.
Keimanan bukanlah sebuah pencapaian yang statis. Ia bukanlah sertifikat yang sekali didapat lalu akan menetap selamanya tanpa perawatan. Para sahabat Nabi SAW telah mengingatkan sebuah realitas spiritual yang fundamental: al-imanu yazidu wa yanqusu—iman itu bisa bertambah (naik) dan bisa berkurang (turun). Saat iman sedang berada di puncak, ketaatan terasa ringan dan nikmat. Namun, ketika ia sedang menurun, di situlah letak bahayanya. Jika penurunan itu tidak segera dicegah
dan diikat, maka iman bisa jatuh, pudar, bahkan hilang sama sekali.
Padahal, iman adalah barang yang sangat berharga, sebuah peparing (pemberian) Allah yang nilai harganya melampaui seluruh isi dunia. Hidayah tidak bisa dibeli di pasar mana pun atau dengan harta sebanyak apa pun. Hak prerogatif hidayah sepenuhnya ada di tangan Sang Pencipta, sebagaimana prinsip innal huda hudalloh—sesungguhnya petunjuk itu adalah petunjuk Alloh. Bahkan, seorang Nabi Muhammad SAW pun tidak memiliki kuasa untuk menjamin keimanan orang yang paling beliau cintai. Allah SWT menegur beliau saat beliau sangat menginginkan pamannya, Abu Thalib, untuk beriman mengingat jasa-jasanya dalam melindungi dakwah Islam:
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki...” (QS. Al-Qashash: 56).
Menyadari bahwa iman adalah titipan yang begitu rapuh sekaligus tak ternilai, kita membutuhkan “tali
pengikat” agar ia tetap bersemayam dalam dada sampai tutuk pol ajal menjemput. Berdasarkan penggalian terhadap Al-Qur’an dan Hadits, setidaknya terdapat empat amal utama yang menjadi tali
pengikat keimanan tersebut.
1. Tali Syukur: Mengunci Nikmat dengan Keridaan
Tali pertama dan utama adalah bersyukur. Syukur bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan kesadaran mendalam bahwa hidayah yang kita rasakan hari ini bukanlah sebuah kebetulan atau warisan biologis. Tanpa syukur yang kuat, hidayah ibarat barang berharga yang diletakkan tanpa pengaman; ia akan mudah lepas saat badai ujian menerpa.
Syukur yang benar mencakup tiga dimensi: hati yang merasa farih (gembira/bangga) atas hidayah
sesuai perintah Allah dalam QS. Yunus: 58 , lisan yang senantiasa memuji Allah , dan perbuatan yang
mewujud dalam peningkatan ketaatan. Allah memberikan jaminan pasti dalam QS. Ibrahim: 7 bahwa
jika kita bersyukur, maka nikmat (termasuk nikmat iman) akan ditambah, namun jika kufur, maka siksa yang pedih akan menanti.
2. Tali Mengagungkan: Menempatkan Agama sebagai Prioritas Mutlak
Setelah disyukuri, hidayah harus diagungkan (ta’dzhim). Mengagungkan berarti meletakkan Qur’an,
Hadits, dan Jamaah di posisi paling atas dalam hirarki hidup kita—di atas logika, perasaan, bahkan
kepentingan pribadi. Ini adalah standar cinta yang diajarkan Rasulullah SAW, di mana iman seseorang
belum sempurna sebelum beliau lebih dicintai daripada orang tua, anak, dan seluruh manusia (HR.
Bukhari & Muslim).
Mengagungkan adalah indikator ketakwaan hati. Sebagaimana firman Allah: “Barangsiapa yang
mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu termasuk ketakwaan hati” (QS. Al-Hajj: 32). Ketika kita
mengagungkan agama, maka ketaatan akan terasa ringan karena hati telah ridha bahwa aturan Allah
adalah yang terbaik. Sebaliknya, meremehkan hal-hal kecil dalam agama adalah tanda bahaya lunturnya tali iman.
3. Tali Mempersungguh: Memperjuangkan Iman Melalui Amal Nyata
Iman tidak cukup hanya dirasakan atau dipahami; ia harus diperjuangkan dengan kesungguhan
(mujahadah). Mempersungguh berarti berusaha sak pol kemampuan untuk mengamalkan agama
hingga benar-benar kelakon (terlaksana) lahir dan batin. Mentalitas ini diringkas dalam prinsip: “Tidak
sempat disempat-sempatkan, tidak kuat dikuat-kuatkan, tidak bisa dibisa-bisakan”.
Allah memberikan jaminan bagi mereka yang mau bersungguh-sungguh: “Dan orang-orang yang
bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami akan tunjukkan jalan-jalan Kami” (QS. Al-Ankabut:
69). Tanpa kesungguhan, syukur bisa melemah dan pengagungan hanya akan menjadi teori belaka.
Kesungguhan adalah mesin yang membuat seluruh perangkat iman tetap bergerak dan hidup.
4. Tali Berdoa: Pengakuan atas Kelemahan Diri
Tali terakhir yang mengikat semuanya adalah doa. Doa adalah pengakuan jujur bahwa kita tidak
mampu menjaga iman ini sendirian. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa hati manusia berada di
antara dua jari Allah yang dibolak-balikkan sesuai kehendak-Nya (HR. Tirmidzi). Maka, berdoa adalah
kebutuhan mendasar agar Allah menetapkan hati kita dalam hidayah.
Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan…”
(QS. Ghafir/Al-Mu’min: 60). Orang yang enggan berdoa dicap sebagai orang yang sombong dan terancam masuk neraka. Doa seperti “Ya Muqollibal quluub, tsabbit qolbii ‘alaa diinika” (Wahai Dzat
yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu) harus menjadi nafas harian kita
agar tidak tergelincir dari jalan yang lurus.
Menuju Husnul Khotimah
Keempat tali ini—Syukur, Mengagungkan, Mempersungguh, dan Berdoa—adalah satu kesatuan yang
tak terpisahkan. Syukur membuat kita sadar, mengagungkan membuat kita konsisten, mempersungguh membuat kita nyata beramal, dan doa menjaga agar kita tetap bergantung kepada-Nya.
Di tengah dunia yang makin lama makin “meratakan” nilai-nilai kesakralan, menjaga tali keimanan
adalah perjuangan seumur hidup. Jangan sampai kita merasa aman, karena kehilangan dunia bukanlah apa-apa dibanding kehilangan hidayah. Mari terus mengikat permata iman ini erat-erat hingga nafas terakhir, agar kelak kita dikumpulkan dalam keadaan husnul khotimah.
