Oleh: Budi Muhaeni
Dua Nilai yang Sering Dipisahkan, Padahal Seharusnya Disatukan. Kerja giat dan hidup hemat
bukan sekadar strategi ekonomi, melainkan pilihan sadar menuju hidup cukup, tenang, dan kaya
yang barokah.
Dua Jalan yang Sering Disalahpahami
Di zaman modern, kerja keras sering dielu-elukan sebagai ukuran keberhasilan. Siapa yang sibuk, siapa yang lembur, siapa yang terlihat produktif-dialah yang dianggap “maju”. Sebaliknya, hidup hemat kerap dipandang sebelah mata: dianggap pelit, kurang ambisi, bahkan tidak visioner.
Ironisnya, hidup sederhana kadang juga disalahartikan sebagai alasan untuk tidak berjuang lebih jauh. Seolah-olah orang yang hidup hemat tidak perlu bekerja keras, dan orang yang bekerja keras tidak
perlu hidup hemat.
Padahal, dalam nilai-nilai kehidupan beriman, kerja giat dan hidup hemat bukan dua jalan yang berlawanan, melainkan satu paket nilai yang saling menguatkan. Keduanya ibarat dua kaki: pincang jika salah satunya diabaikan.
Mujhid – Muzhid: Dua Karakter, Satu Jalan
Dalam lingkungan orang beriman dikenal dua istilah yang kaya makna: mujhid dan muzhid.
Mujhid berarti bekerja giat, bersungguh-sungguh, penuh semangat, hingga menghasilkan karya,
memenuhi 3 prinsip kerja: bener, kurup, janji, benar, worth it, dan sesuai kesepakatan. Ia tidak bekerja asal selesai, tetapi bekerja dengan tanggung jawab dan kehormatan.
Sedangkan muzhid bermakna tirakat banter: hidup hemat, gemi, setiti, ati-ati. Tidak boros, tidak berlebihan, serta mampu mengukur kemauan dengan kemampuan.
Rasululloh SAW bersabda bahwa orang yang beruntung adalah mereka yang mampu bersungguh-sungguh dalam usaha sekaligus hidup tirakat. Keberuntungan, menurut hadis ini, tidak lahir dari kerja keras semata, dan tidak pula dari hidup hemat yang pasif. Ia tumbuh dari perpaduan keduanya.
Cita-Cita Besar Orang Beriman: Dunia dan Akhirat
Orang beriman sejatinya bukan manusia dengan cita-cita kecil. Ia tidak puas hanya selamat di dunia, dan juga tidak mengorbankan dunia dengan alasan akhirat.
Rasululloh SAW menyebut bahwa manusia dengan cita-cita terbesar adalah mereka yang menginginkan kebaikan dunia dan akhirat sekaligus. Karena itu, Islam tidak mengajarkan hidup santai tanpa ikhtiar, apalagi menggantungkan hidup kepada orang lain.
Allah SWT menegaskan bahwa siapa yang bersungguh-sungguh, maka manfaat kesungguhannya kembali kepada dirinya sendiri (QS. Al-‘Ankabut: 6). Kerja giat bukan untuk Allah, karena Allah Maha Kaya, melainkan demi masa depan manusia itu sendiri.
Giat dalam Agama, Serius Menuju Keselamatan
Kerja giat tidak hanya berlaku dalam urusan dunia. Dalam urusan agama, keseriusan justru dituntut lebih tinggi. Mencari surga dan menjauhi neraka tidak bisa dijalani dengan sikap setengah-setengah.
Allah SWT berjanji akan menunjukkan jalan-Nya kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan-Nya (QS. Al-‘Ankabut: 69). Bahkan Rasululloh SAW memberi peringatan tajam: orang yang lari dari neraka justru tidur, dan orang yang mengejar surga malah lalai.
Ibadah, ketaatan, dan amal shalih memerlukan disiplin dan kesungguhan, bahkan lebih dari kerja dunia.
Kerja Dunia: Ikhtiar, Syukur, dan Keteladanan
Dalam urusan dunia, orang beriman yang belum bekerja dianjurkan terus berikhtiar dan berdoa agar memperoleh pekerjaan yang halal, mencukupi, dan menenangkan hati.
Bagi yang telah bekerja, kewajibannya bukan sekadar bersyukur, tetapi menjaga semangat, profesionalitas, dan nilai. Kerja yang baik bukan hanya menghasilkan nafkah, tetapi juga keteladanan. Dari cara seseorang bekerja, orang lain belajar tentang kejujuran, amanah, dan tanggung jawab.
Hidup Hemat: Seni Mengendalikan Diri
Kerja giat harus disempurnakan dengan hidup hemat. Allah SWT memerintahkan kesederhanaan
dalam hidup dan melarang sikap berlebih-lebihan (QS. Al-A’raf: 31).
Hemat bukan berarti pelit. Hemat adalah kemampuan menempatkan harta pada fungsinya. Tidak hidup demi gengsi, tidak terjebak pada besar pasak daripada tiang, dan tidak menjadikan konsumsi sebagai sumber kebahagiaan semu.
Want dan Need: Kunci Hidup Terkendali
Di sinilah pentingnya membedakan want dan need.
Need (kebutuhan) itu jelas, terbatas, dan bisa disesuaikan: makan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan. Want (keinginan) tidak pernah habis. Satu terpenuhi, muncul yang lain.
Sering kali masalah hidup bukan karena penghasilan kecil, melainkan karena want dibiarkan memimpin keputusan. Ketika need yang memimpin, kita bisa menabung dan berbagi. Ketika want
berkuasa, sebesar apa pun penghasilan, selalu terasa kurang.
Hidup adalah Pilihan
Pada akhirnya, hidup memang berisi pilihan. Tua adalah given, tetapi menjadi bijaksana adalah
pilihan. Kerja giat adalah pilihan. Hidup hemat juga pilihan.
Maka pertanyaannya sederhana, tetapi menentukan arah hidup: Which one do you choose?
Dan lebih dalam lagi: which one truly fits you as a person of faith?
Kerja giat dan hidup hemat bukan sekadar strategi ekonomi. Ia adalah jalan hidup menuju cukup,
tenang, dan kaya yang barokah.
