Hidup diantara Dua Huruf

oleh: Budi Muhaeni

Kehidupan adalah sebuah perjalanan yang tak henti-hentinya. Setiap detik, bahkan tanpa kita sadari, kita dihadapkan pada persimpangan-persimpangan kecil, menuntut kita untuk memilih dan memutuskan. Kiri atau kanan, ini atau itu, naik atau turun, berhenti atau lanjut, deretan opsi
ini seolah tak ada habisnya. Kadang, pilihannya begitu jelas, sejelas siang dan malam. Namun, seringkali, kita terjebak dalam ambiguitas, di mana tidak semua jalan tampak terang, dan bahkan saking sulitnya, kita memilih untuk tidak memilih, padahal “tidak memilih” itu sendiri adalah
sebuah pilihan.

Fenomena pilihan dalam hidup ini bisa digambarkan seperti berada di antara dua huruf yang esensial: B dan D. Huruf B melambangkan Birth, kelahiran kita ke dunia ini. Sementara huruf D
melambangkan Death, kematian yang pasti menjemput. Jadi, di antara B dan D ini, ada satu huruf krusial yang mengisi setiap napas dan langkah kita: C, yang berarti Choice, pilihan. Sepanjang hidup, kita terus menerus membuat pilihan, dari hal yang paling sepele hingga yang paling fundamental.

Untuk urusan duniawi, manusia diberi kebebasan untuk memilih berkali-kali. Kita memilih pasangan hidup, memilih jalur pendidikan, memilih pekerjaan, memilih tempat tinggal, bahkan memilih apa yang akan dimakan atau dibeli. Semakin tinggi tingkat kecerdasan atau semakin melimpah kekayaan seseorang, terkadang semakin banyak pula pilihan yang terbuka baginya. Mau kuliah di dalam negeri atau luar negeri, makan masakan Indonesia atau Western, atau berlibur ke pegunungan atau pantai, pilihan-pilihan ini seolah tak terbatas, menciptakan kanvas kehidupan yang penuh warna.

Namun, ada satu ranah di mana pilihan tidak lagi menjadi wilayah manusia sepenuhnya: urusan akhirat, urusan agama. Bagi seorang mukmin, pilihan ini sejatinya hanya sekali, bahkan telah dipilihkan oleh Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Sebagai Dzat yang menciptakan kita dari tiada, Allah telah menetapkan jalan hidup yang paling benar dan paling sesuai bagi hamba-Nya.
Allah telah memilihkan bagi kita bahwa agama kita haruslah Islam. Sebagaimana firman-Nya
dalam Al-Qur’an yang artinya: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19

Pedomannya telah Allah tetapkan, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Rasulullah bersabda yang artinya: “Telah aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik)

Praktik ibadahnya pun telah diarahkan untuk senantiasa dalam kebersamaan (berjamaah), menguatkan tali persaudaraan. Dalam QS. Ali Imran: 103 Alloh menerangkan yang artinya :“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dengan berjamaah, dan
janganlah kamu berpecah belah.”

Niat di setiap amal perbuatan haruslah murni karena Allah semata, tanpa campur tangan kepentingan duniawi. Seperti yang diterangkan dalam hadits Bukhari dan Muslim yang artinya: “Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setia
orang itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan”.

Dan Allah juga berfirman QS. Al-Bayyinah: 5, “Dan kalian tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan agama
kepada-Nya dengan condong…”.

Dan Nabi Muhammad bersabda dalam hadits Nasai: “Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amalan kecuali dengan murni karena-Nya,
dan mencari wajah-Nya (keridaan-Nya)”.

Ketetapan ini haruslah dijaga dan dipegang teguh hingga akhir hayat, berdasarkan firman Allloh dalam QS. Al-Hijr: 99 : “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”.

Bahkan, tujuan akhir dari kehidupan ini pun telah Allah pilihkan dan tawarkan, yaitu masuk surga dan selamat dari neraka. Inilah puncak harapan bagi setiap mukmin, sebagaimana mereka senantiasa mengharap rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.
َQS. Al-Isra’: 57 :”…kami mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya…”.

Namun, bukan berarti urusan dunia dan akhirat adalah dua hal yang terpisah sama sekali. Justru, terdapat irisan yang sangat dalam. Dunia ini adalah ladang tempat kita menanam, sementara akhirat adalah masa panen dari apa yang telah kita tabur. Pepatah klasik, “Ad-dunya mazra’atul
akhirah” (dunia adalah ladang akhirat), menegaskan korelasi ini. Setiap pilihan duniawi kita, setiap amal perbuatan, akan berbuah di akhirat kelak. Lebih jauh lagi, di penghujung zaman ini, seringkali kelancaran urusan agama dan dakwah justru memerlukan dukungan dari dunia, dalam bentuk harta.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam HR. Ath-Thabrani : “Ketika akhir zaman, di kalangan manusia, seorang laki-laki harus menggunakan dirham-dirham dan dinar-dinar untuk menegakkan agama dan dunianya.

Hadits ini menjadi pengingat bahwa materi, ketika digunakan di jalan Allah, dapat menjadi wasilah untuk memperlancar syiar agama dan kebaikan. Ini menunjukkan bahwa meskipun pilihan agama
telah ditetapkan, cara kita menjalani dan mendukungnya di dunia ini tetap membutuhkan strategi dan sumber daya.

Maka, hidup di antara huruf B dan D ini adalah anugerah sekaligus tantangan. Kita bebas memilih
dalam ranah dunia, namun harus tunduk pada pilihan Allah dalam ranah agama. Keseimbangan antara keduanya, dengan menjadikan setiap pilihan duniawi sebagai bekal menuju kebahagiaan
abadi, itulah esensi dari perjalanan hidup yang sesungguhnya.

Exit mobile version