Oleh: Budi Muhaeni
Ada kata-kata tua yang tak lekang oleh zaman. Ia mungkin jarang dipakai dalam percakapan modern, kalah populer dibanding istilah-istilah baru yang terdengar lebih “kekinian”. Namun justru di sanalah kekuatannya: ia lahir dari pengalaman panjang manusia, ditempa oleh waktu, dan menyimpan makna yang dalam. Salah satu kata itu adalah rukun.
Di tanah Jawa, kita mengenal pepatah yang sangat masyhur: rukun agawe santoso, crah agawe bubrah. Rukun melahirkan kekuatan, sedangkan pertikaian melahirkan kerusakan. Pepatah ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan kesimpulan hidup. Ia lahir dari pengamatan sederhana namun jujur: keluarga yang rukun akan kokoh, masyarakat yang rukun akan damai, dan bangsa yang rukun akan bertahan. Sebaliknya, sedikit saja keretakan, iri, atau saling curiga, pelan-pelan bangunan besar bisa runtuh dari dalam.
Secara bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan rukun sebagai keadaan baik dan damai, tidak bertengkar; bersatu hati dan bersepakat. Definisi ini tampak sederhana, tetapi bila direnungkan, ia menuntut sesuatu yang tidak mudah. Bersatu hati bukan hanya soal tidak berdebat di permukaan, melainkan adanya keselarasan batin. Tidak bertengkar bukan berarti memendam luka, tetapi mampu menyelesaikan perbedaan dengan lapang dada.
Dalam perspektif agama, makna rukun menjadi jauh lebih dalam. Rukun bukan sekadar hidup berdampingan tanpa konflik, tetapi saling mengasihi, saling memaafkan, bantu-membantu dan tolong-menolong dalam kebaikan. Rukun berarti yang kuat menguatkan, yang lapang melapangkan, yang mampu mendoakan kebaikan bagi saudaranya. Bahkan dalam perjumpaan sehari-hari, rukun tercermin dari wajah yang ceria, dari hati yang bersih dari unek-unek, dari tidak adanya dengki, srei, dan iri hati.
Di sinilah kita memahami bahwa rukun sejatinya bukan urusan fisik. Bukan sekadar sering bertemu, duduk bersama, atau tersenyum di depan orang lain. Rukun adalah urusan hati. Seseorang bisa tampak akrab di luar, tetapi hatinya penuh prasangka dan dendam. Sebaliknya, ada orang yang jarang berinteraksi, tetapi ketika bertemu, hatinya bersih dan doanya tulus. Yang pertama rapuh, yang kedua justru kuat.
Rasulullah SAW menegaskan hakikat ini dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah. Ketika beliau ditanya, “Manakah manusia yang paling utama?” Nabi menjawab, “Setiap yang bersih hatinya dan jujur ucapannya.” Para sahabat memahami kejujuran ucapan, lalu bertanya, “Apa yang dimaksud dengan bersih hati?” Rasulullah menjelaskan, “Bersih hati adalah takwa lagi bersih, tidak ada dosa di dalam hati, tidak ada aniaya, tidak ada unek-unek (dendam), dan tidak ada dengki.” Inilah fondasi rukun yang sesungguhnya: hati yang bersih.
Hadis lain yang diriwayatkan Muslim menegaskan hubungan erat antara iman dan kerukunan. Rasulullah SAW bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mengasihi.” Iman bukan sekadar keyakinan pribadi, tetapi melahirkan kasih sayang sosial. Tanpa kasih, iman menjadi kering; tanpa iman, kasih kehilangan arah.
Al-Qur’an pun berulang kali menegaskan bahwa kerukunan adalah nikmat besar dari Allah. Dalam QS Ali Imran ayat 103, Allah mengingatkan bahwa manusia pernah bermusuhan, lalu Allah mengumpulkan hati mereka hingga menjadi bersaudara karena nikmat-Nya. Demikian pula dalam QS Al-Anfal ayat 63, Allah menegaskan bahwa hanya Dia yang mampu menyatukan hati. Bahkan jika seluruh harta di bumi diinfakkan, manusia tetap tidak akan mampu mempersatukan hati-hati yang tercerai, kecuali dengan kehendak Allah.
Ketika seseorang menerima hidayah, di lubuk hatinya tumbuh rasa cinta kepada sesama hamba Allah yang beriman. Maka tidak heran, meski belum pernah saling mengenal, dua orang beriman dapat merasakan kedekatan batin yang spontan. Ada rasa akrab yang sulit dijelaskan, seolah hati mereka saling menyapa. Rasulullah SAW menjelaskan fenomena ini dalam hadis Bukhari: ruh-ruh itu seperti tentara yang dikumpulkan; yang saling cocok akan berkumpul, dan yang tidak cocok akan berselisih.
Semua ini menegaskan satu hal: rukun adalah urusan hati, dan hati berada dalam kekuasaan Allah. Tidak ada manusia yang mampu memaksa, membelokkan, atau menetapkan hati orang lain. Tugas kita bukan menguasai hati manusia, melainkan memohon kepada Allah agar hati kita dan hati orang lain ditetapkan dalam kerukunan. Allah-lah yang menanamkan benih-benih rukun itu dalam diri seseorang.
Karena itu, usaha lahiriah tetap penting: bersikap baik, bertutur kata lembut, mengajak dengan irama yang menenangkan. Namun semua itu harus disertai doa. Kita tidak bisa mengubah sikap seseorang, tetapi kita bisa mengingatkan dengan adab dan mendoakannya dengan tulus. Let’s do our side and leave the rest to our Mighty God, Allah SWT. Sebab ketika hati-hati telah dipersatukan oleh-Nya, rukun bukan lagi slogan, melainkan kekuatan yang menghidupkan.
