MARITIMPOST.Com, Balikpapan – PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Sepinggan menggelar pelatihan pengelolaan lahan dan peningkatan produktivitas hasil pertanian bagi warga binaan Lapas Kelas IIA Balikpapan. Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) tersebut berlangsung di kawasan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Balikpapan, Rabu (24/6/2026).
Pelatihan ini menjadi upaya Pertamina mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan keterampilan warga binaan dalam mengelola lahan pertanian. Mengingat kondisi tanah di Balikpapan yang cenderung kurang subur dan memiliki tekstur yang menantang untuk budidaya, peserta dibekali pengetahuan mengenai teknik regenerasi serta pengolahan kembali media tanam agar tetap produktif.
Sebanyak 11 warga binaan mengikuti pelatihan tersebut. Mereka merupakan peserta program asimilasi yang telah menjalani lebih dari setengah masa pidana dan memenuhi persyaratan administratif.
Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan, Edi Mangun, mengatakan program tersebut merupakan bentuk komitmen perusahaan yang tidak hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga pemberdayaan masyarakat.
“Program Tanggung Jawab Sosial ini berfokus pada penciptaan kemandirian masyarakat. Kami berharap melalui pelatihan ini para warga binaan memiliki bekal keterampilan yang kuat. Dengan demikian, setelah menyelesaikan masa pembinaan dan kembali ke masyarakat, mereka dapat membentuk komunitas yang produktif serta membuka peluang ekonomi mandiri yang memberikan manfaat positif bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya,” ujar Edi.
Apresiasi terhadap program tersebut juga disampaikan Kepala Subseksi Bimbingan Kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja Lapas Kelas IIA Balikpapan, Setyo D. Moko. Menurut dia, pendampingan Pertamina yang dimulai melalui program pengelolaan limbah pada 2022 dan berlanjut pada sektor pertanian sejak 2025 telah memberikan dampak positif bagi pembinaan warga binaan.
“Kami sangat berterima kasih atas pendampingan berkelanjutan dari Pertamina. Salah satu bentuk dukungan yang sangat membanggakan adalah pembangunan fasilitas greenhouse berukuran 22 x 11 meter di area SAE ini. Melalui fasilitas tersebut, kami bersama warga binaan berhasil melaksanakan panen raya perdana melon dengan hasil panen terbesar mencapai sekitar 400 kilogram,” ungkap Moko.
Kawasan SAE Lapas Balikpapan seluas sekitar 7.000 meter persegi saat ini menjadi pusat kegiatan pembinaan berbasis pertanian, perikanan, dan peternakan. Pada sektor hortikultura, berbagai komoditas dibudidayakan, antara lain melon, kangkung, sawi, cabai, dan pisang.
Pelatihan pengelolaan lahan dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan siklus tanam, terutama budidaya melon yang rentan terhadap serangan hama, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan tidur seluas sekitar seperempat hektare. Program ini juga menjadi bagian dari pengembangan konsep pertanian perkotaan (urban farming) di lingkungan lapas.
Sebagai bentuk dukungan berkelanjutan, Pertamina turut menyalurkan berbagai sarana penunjang pertanian, di antaranya mesin sprayer tanaman, kotoran hewan (kohe), sekam, bahan dapur untuk pembuatan pestisida alami, serta ember penampungan untuk proses fermentasi pupuk.
