Dari Upah Tak Menentu Menuju Harapan Baru: Sertifikasi Security KPB Membuka Jalan bagi Warga Sekitar Kilang

MARITIMPOST.Com, Balikpapan – Di tengah transformasi besar Kilang Balikpapan, pelatihan Security Gada Pratama menjadi salah satu ikhtiar menyiapkan masyarakat agar mampu beradaptasi dan mengambil peluang. Bagi Ashraf Kumar dan Al Aziz, sertifikasi bukan sekadar selembar pengakuan kompetensi, melainkan bekal untuk menata masa depan.

Bagi Ashraf Kumar, warga Kampung Baru, Balikpapan Barat, mendapatkan pekerjaan bukan semata-mata tentang memperoleh penghasilan. Ada harapan yang lebih besar di baliknya, yakni kehidupan keluarga yang lebih teratur dan masa depan anak-anak yang lebih terjamin.

Sebelum bekerja sebagai petugas keamanan, Ashraf pernah menjadi pekerja kasar dalam proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Pekerjaan itu memberinya penghasilan, tetapi kepastian menjadi persoalan tersendiri. Sistem kerja berbasis kontrak membuatnya harus menghadapi ketidakpastian, sementara pembayaran upah terkadang tidak diterima tepat waktu.

“Kalau pekerjaan sebelumnya, sistemnya borongan. Kontraknya tidak jelas. Gaji kadang dibayar separuh, kadang lama baru dibayar,” tutur Ashraf saat ditemui di Balikpapan, Jumat (23/10/2026).

Kondisi tersebut menjadi pertimbangan penting bagi Ashraf untuk mencari pekerjaan dengan penghasilan yang lebih teratur. Ia telah berkeluarga dan memiliki dua anak. Istrinya saat ini mengurus rumah tangga, sehingga kebutuhan keluarga menjadi tanggung jawab yang harus ia pikirkan setiap hari.

Keinginan untuk memperbaiki keadaan itu tidak datang tanpa pertimbangan. Ashraf mengaku sempat membicarakan rencana mengikuti pelatihan dengan istrinya. Kekhawatiran mengenai penghasilan dan pekerjaan menjadi bagian dari percakapan mereka. Namun, keduanya akhirnya sepakat bahwa mencari peluang kerja yang lebih baik merupakan langkah yang perlu dicoba.

Kesempatan itu datang pada 2025, ketika Ashraf memperoleh informasi mengenai pelatihan Security Gada Pratama yang diselenggarakan PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB). Berbekal informasi dari seorang teman, pria kelahiran tahun 1998 mendaftar dan mengikuti pelatihan tersebut. Program itu memberikan kesempatan kepada warga untuk memperoleh pengetahuan dan kompetensi dasar bidang pengamanan tanpa harus menanggung biaya pelatihan.

Enam hari mengikuti pelatihan menjadi pengalaman penting bagi Ashraf. Ia mempelajari pengetahuan dan keterampilan dasar profesi satuan pengamanan, termasuk penggunaan perlengkapan yang biasa digunakan petugas keamanan. Baginya, pelatihan itu bukan hanya kesempatan mendapatkan sertifikat, tetapi juga ruang untuk memahami tanggung jawab pekerjaan yang akan dijalani.

Bekal tersebut kemudian membawanya memasuki pekerjaan di bidang keamanan. Kini Ashraf bekerja sebagai petugas keamanan melalui Pertamina Training & Consulting (PTC), anak perusahaan Pertamina yang bergerak di bidang jasa pengelolaan sumber daya manusia dan layanan terkait. Ia bertugas di kawasan rumah dinas perusahaan Pertamina di wilayah Gunung Dubbs, Balikpapan.

Perubahan yang paling ia rasakan adalah keteraturan penghasilan dan perlindungan ketenagakerjaan. Ashraf menyebut pekerjaannya saat ini memberikan akses pada BPJS dan Jaminan Hari Tua (JHT), sementara pembayaran gaji diterima lebih tepat waktu dibandingkan pengalaman kerjanya sebelumnya.

“Alhamdulillah, sekarang sudah mulai membaik. Di bidang sekuritiy ini ada BPJS, ada JHT, dan gajinya juga tepat waktu,” katanya.

Meski demikian, Ashraf memahami bahwa pekerjaan yang dijalaninya masih menggunakan sistem kontrak. Ia tidak menutup mata terhadap kemungkinan berakhirnya masa kerja. Karena itu, ia berusaha menjaga kinerja dan terus belajar dari lingkungan kerjanya.

Dalam menjalankan tugas, Ashraf bersama rekan-rekannya melakukan patroli untuk memantau keamanan kawasan rumah dinas. Mereka memperhatikan kondisi lingkungan dan melaporkan keberadaan orang atau aktivitas yang dinilai mencurigakan kepada atasan. Ia memahami bahwa petugas keamanan tidak boleh bertindak semaunya sendiri.

“Kalau ada orang yang tidak dikenal atau mencurigakan, kami bisa melapor langsung ke atasan. Kami juga punya komandan regu. Jadi, sebagai anggota, tidak bisa bertindak sendiri,” ujarnya.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa profesi keamanan bukan sekadar berjaga di pos. Ada tanggung jawab untuk mengamati lingkungan, berkomunikasi dengan tim, menjalankan prosedur, serta mengetahui batas kewenangan. Prinsip itu penting, terlebih ketika pengamanan dilakukan di lingkungan yang memiliki aktivitas dan aset perusahaan.

Bagi Ashraf, peningkatan kemampuan juga berlangsung melalui proses saling berbagi pengalaman dengan rekan kerja yang lebih senior. Ia memperoleh pengetahuan baru tentang cara menjalankan tugas dan pengamanan sesuai prosedur.

“Banyak sukanya. Kami bisa berbagi ilmu dengan anggota lain. Senior-senior juga memberi tahu cara kerja yang benar, jadi kami mendapat pengalaman baru,” tuturnya.

Perjalanan lain juga dialami Al Aziz. Warga Gunung Samarinda, Balikpapan Utara yang sebelumnya bekerja di bagian penagihan perusahaan pembiayaan itu mengikuti pelatihan Security Gada Pratama yang sama pada 2025. Setelah menyelesaikan pelatihan selama sekitar satu pekan, ia tidak serta-merta langsung mendapatkan pekerjaan.

Ia membutuhkan waktu sekitar lima bulan untuk memperoleh pekerjaan baru. Dalam masa pencarian tersebut, Al Aziz sempat mencoba melamar ke sejumlah perusahaan, termasuk PTC. Namun, kesempatan bekerja di sana belum menjadi rezekinya.

Kini, Al Aziz bekerja sebagai petugas keamanan di Hexindo Balikpapan. Ia merasakan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dapat digunakan dalam pekerjaan sehari-hari. Pengalaman bertemu rekan kerja dari berbagai daerah juga memperluas pengetahuannya mengenai lingkungan profesi keamanan.

“Bagus, banyak hal positif dari pelatihan itu. Alhamdulillah, ilmunya terpakai,” kata Al Aziz.

Ia menilai sertifikasi menjadi salah satu bekal ketika seseorang ingin memasuki bidang pekerjaan keamanan. Namun, menurutnya, sertifikat bukan satu-satunya penentu. Pengalaman kerja dan standar operasional prosedur yang berlaku di setiap perusahaan tetap menjadi pertimbangan.

“Punya sertifikasi dan tidak punya sertifikasi tentu berbeda. Tetapi, pengalaman juga menentukan. Kalau sertifikasinya ada, sementara pengalaman belum banyak, tetap harus menyesuaikan dengan SOP perusahaan tempat bekerja,” ujarnya.

Al Aziz berharap program pelatihan semacam ini dapat terus dilanjutkan. Ia juga ingin memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan tingkat lanjutan, seperti Gada Madya dan Gada Utama, agar kompetensinya terus berkembang.

Kisah Ashraf dan Al Aziz memperlihatkan bahwa perubahan taraf hidup tidak selalu berlangsung seketika. Sertifikasi tidak otomatis menghadirkan pekerjaan, sebagaimana pengalaman Al Aziz yang masih harus mencari peluang selama beberapa bulan. Namun, pelatihan dapat menjadi salah satu bekal untuk memperluas kesempatan, meningkatkan kompetensi, dan menumbuhkan kepercayaan diri ketika memasuki dunia kerja.

Upaya pengembangan kemampuan masyarakat itu menjadi bagian dari kegiatan pemberdayaan yang dilakukan KPB di tengah transformasi industri energi di Balikpapan. Melalui pelatihan Security Gada Pratama pada 2025, KPB membuka kesempatan bagi 60 warga dari Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Peserta terdiri atas 35 warga Balikpapan dan 25 warga PPU. Seluruh peserta, sebanyak 60 orang, dinyatakan lulus sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Pelatihan berlangsung selama enam hari, dimulai pada 19 Mei 2025 di Balikpapan. Materinya mencakup teori dan praktik dasar pengamanan serta pengenalan sektor minyak dan gas. Dalam pelaksanaannya, KPB bekerja sama dengan Direktorat Binmas Polda Kalimantan Timur untuk penyampaian materi keamanan, sementara BNSP berperan dalam proses sertifikasi. Kegiatan ini juga mendapat dukungan Pemerintah Kota Balikpapan dan Pemerintah Kabupaten PPU.

Program tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peringatan hari jadi KPB yang keenam. Bagi peserta, kesempatan mengikuti pelatihan tanpa biaya menjadi hal berarti, sebab akses terhadap pelatihan dan sertifikasi profesional dapat menjadi kendala bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi.

VP Legal & Relation PT Kilang Pertamina Balikpapan, Asep Sulaeman, mengatakan pengembangan sumber daya manusia di sekitar wilayah perusahaan merupakan bagian dari upaya KPB untuk tumbuh bersama masyarakat.

“Kilang Pertamina Balikpapan berusaha tumbuh bersama masyarakat, salah satunya melalui pengembangan sumber daya manusia. Kami ingin masyarakat sekitar memiliki kompetensi sekaligus sertifikasi yang bisa menjadi modal untuk bekerja. Dengan semangat itu, kami secara konsisten menyelenggarakan pelatihan-pelatihan,” ujar Asep.

Ia menyampaikan kebanggaannya ketika peserta pelatihan dapat mengembangkan kemampuan dan memperoleh kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup.

“Tentunya kami bangga melihat lulusan pelatihan dapat meningkatkan taraf hidup menjadi lebih baik. Kami bangga bisa melihat masyarakat sekitar tumbuh, berkarya, dan turut berkontribusi untuk menggerakkan perekonomian,” katanya.

Inisiatif pengembangan kompetensi masyarakat tersebut berlangsung ketika Balikpapan tengah menghadapi perubahan besar di sektor energi. Proyek RDMP Balikpapan merupakan salah satu proyek strategis nasional yang dirancang untuk memodernisasi kilang, meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah dari 260 ribu menjadi 360 ribu barel per hari, serta menghasilkan produk bahan bakar minyak dengan standar setara Euro V.

Transformasi kilang bukan hanya menyangkut pembangunan fasilitas dan peningkatan kapasitas produksi. Perubahan skala industri juga menuntut kesiapan sumber daya manusia, budaya keselamatan, dan lingkungan masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan industri. Dalam konteks itu, peningkatan kompetensi warga menjadi salah satu unsur yang dapat mendukung keberlanjutan hubungan perusahaan dengan masyarakat.

Aspek keselamatan dan kesehatan kerja (HSSE) juga memiliki arti penting dalam pekerjaan pengamanan. Petugas keamanan berada di lingkungan yang menuntut kedisiplinan, kewaspadaan, kepatuhan terhadap prosedur, serta koordinasi dengan atasan dan pihak terkait. Kompetensi yang diperoleh melalui pelatihan menjadi bekal awal untuk memahami tanggung jawab tersebut. Dalam praktiknya, setiap tindakan tetap harus mengikuti kewenangan dan prosedur yang berlaku, bukan mengandalkan tindakan pribadi.

Bagi Ashraf, perubahan itu kini terasa dalam rutinitas pekerjaannya dan kemampuannya memenuhi kebutuhan keluarga dengan penghasilan yang lebih teratur. Bagi Al Aziz, pelatihan menjadi bekal yang akhirnya terpakai setelah melalui masa pencarian kerja. Keduanya menempuh jalur berbeda, tetapi memiliki kesamaan, yakni kesempatan untuk belajar dapat membuka jalan menuju pilihan hidup yang lebih baik.

Tidak semua peserta pelatihan dapat dipastikan memperoleh pekerjaan hanya dari kelulusan sertifikasi. Karena itu, keberhasilan program juga perlu dilihat dari keberlanjutan manfaatnya, apakah kompetensi peserta terus berkembang, apakah mereka memperoleh akses terhadap peluang kerja, dan sejauh mana kemampuan tersebut digunakan dalam lingkungan profesional.

Pada akhirnya, enam hari pelatihan bukanlah akhir perjalanan. Bagi Ashraf dan Al Aziz, itu justru menjadi salah satu titik awal untuk beradaptasi dengan tantangan baru, membangun kemampuan, dan menata harapan keluarga. Di tengah perubahan besar yang sedang berlangsung di Balikpapan, langkah-langkah seperti inilah yang membuat pembangunan memiliki makna lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, bukan hanya tentang kilang yang semakin modern, tetapi juga tentang manusia yang diberi kesempatan untuk tumbuh bersama perubahan.

Exit mobile version