MARITIMPOST.Com, Berau – Di tengah hamparan laut dan kawasan kepulauan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, sebuah menara BTS berdiri di Kampung Bohe Silian RT 02, Kecamatan Maratua. Infrastruktur telekomunikasi itu menjadi penghubung warga dengan dunia digital di wilayah yang belum terjangkau jaringan fiber optik.
Saat meninjau langsung BTS Bakti Komdigi di Pulau Maratua, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Infrastruktur Bakti Komdigi Darien Aldiano menegaskan bahwa penyediaan akses telekomunikasi di wilayah terpencil merupakan bagian dari tanggung jawab negara untuk memastikan seluruh masyarakat mendapatkan layanan komunikasi yang setara.
“Jadi memang kewajiban pemerintah untuk menyiapkan layanan telekomunikasi kepada masyarakat. Karena bagaimanapun kalau ketemu dengan kepentingan usaha ya bisnis, ini kan tidak masuk wilayah komersil,” ujar Darien.
Menurut dia, tantangan utama penyediaan layanan internet di kawasan tersebut adalah belum tersedianya jaringan fiber optik maupun infrastruktur microwave yang lazim digunakan sebagai penghubung BTS di perkotaan. Karena itu, BTS di Bohe Silian mengandalkan teknologi VSAT yang terhubung melalui satelit.
Melalui teknologi tersebut, layanan internet dapat tetap dihadirkan meski berada di wilayah kepulauan yang jauh dari jaringan tulang punggung telekomunikasi nasional. Selama perangkat satelit dapat terhubung dengan cakupan satelit yang tersedia, layanan internet tetap dapat berjalan.
Penggunaan satelit memang menjadi solusi bagi daerah terpencil. Namun, biaya operasionalnya jauh lebih tinggi dibanding jaringan berbasis fiber optik atau microwave. Meski demikian, pemerintah tetap memastikan layanan telekomunikasi dapat hadir di wilayah yang secara ekonomi belum menarik bagi operator komersial.
BTS Bakti di Bohe Silian sendiri telah beroperasi sejak 2018. Infrastruktur tersebut dibangun dan dikelola oleh Mitratel sebagai mitra penyedia infrastruktur, sementara Bakti Komdigi memastikan layanan telekomunikasi dapat dimanfaatkan masyarakat melalui skema kerja sama yang telah disepakati.
Darien menjelaskan, keberadaan BTS tersebut terus dipantau secara real time melalui sistem monitoring Bakti Komdigi. Berdasarkan data yang dimiliki, jumlah pengguna layanan di BTS tersebut mencapai sekitar 250 orang.
“Yang penting masyarakat bisa pakai. Dan kami bisa memonitoring itu secara real time melalui sistem monitoring kami. Dan tercatat di kami, penggunanya atas BTS ini sampai dengan 250 orang,” ujarnya.
Meski jumlah pengguna relatif kecil dibanding BTS di wilayah perkotaan, kehadiran infrastruktur tersebut memiliki arti penting bagi masyarakat setempat. Akses internet memungkinkan warga berkomunikasi, mengakses layanan pendidikan dan kesehatan, memperoleh informasi, hingga mendukung aktivitas ekonomi dan pariwisata yang berkembang di kawasan Maratua.
Sebagai badan layanan umum di bawah Kementerian Komunikasi dan Digital, Bakti memiliki mandat mempercepat pemerataan infrastruktur digital di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Melalui pembangunan BTS 4G dan dukungan konektivitas satelit, termasuk pemanfaatan kapasitas Satelit Republik Indonesia (SATRIA-1), Bakti terus memperluas akses internet ke wilayah-wilayah yang belum terjangkau layanan telekomunikasi komersial.
Kehadiran BTS di Bohe Silian menjadi salah satu contoh bagaimana negara berupaya menghadirkan konektivitas hingga ke pulau-pulau terluar, memastikan masyarakat tetap terhubung di tengah keterbatasan geografis yang ada.
