Tuhan bersumpah demi waktu. Mengapa?

Oleh : Budi Muhaeni

Pernahkah Anda membayangkan jika sisa hidup Anda tertera jelas di pergelangan
tangan, terus berdetak mundur, dan Anda bahkan bisa mentransfer atau mencuri waktu
dari orang lain? Konsep mengerikan namun memikat inilah yang diangkat dalam sebuah
film di tahun 2011 berjudul “In Time”.

Dalam semesta film tersebut, waktu bukanlah
sekadar konsep, melainkan mata uang. Setiap manusia terlahir dengan jam hitung
mundur di lengan mereka, dan ketika angka itu mencapai nol, kehidupan pun berakhir
seketika. Bank-bank waktu berdiri kokoh, sementara praktik ‘perampokan waktu’ menjadi
ancaman nyata.

Gambaran distopia (masyarakat fiktif yang sangat buruk) ini secara mengejutkan
beresonansi dengan banyak ajaran agama, khususnya dalam tradisi samawi, tentang
esensi waktu. Waktu adalah salah satu tanda kebesaran dan karunia Ilahi. Ia bukan milik
kita sepenuhnya, melainkan amanah yang dipercayakan.

Dalam Islam, Al-Qur’an berulang kali mengingatkan manusia tentang singkatnya
kehidupan dunia dan pentingnya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Firman Allah SWT
dalam Surat Al-Ashr secara gamblang menegaskan bahwa setiap detik yang berlalu
adalah potensi kerugian yang nyata, kecuali diisi dengan keimanan yang kokoh dan amal
kebaikan yang tulus. Ayat yang singkat namun begitu mendalam ini adalah pengingat
keras bagi kita semua akan berharganya setiap hela napas.

Dunia yang tergambar dalam film, di mana waktu dapat ditransfer dan direbut,
mencerminkan sisi gelap nafsu manusia akan kekuasaan dan keabadian duniawi. Kaum
“kaya waktu” yang hidup dalam keabadian semu, terjebak dalam kehampaan spiritual,
lupa akan tujuan sejati penciptaan. Mereka mengumpulkan waktu, yang sejatinya adalah
anugerah Tuhan, seolah-olah itu adalah hak mutlak mereka untuk menguasai hidup dan
mati. Bukankah ini gambaran nyata dari keserakahan manusia yang lupa akan hisab
(perhitungan) di kemudian hari? Mereka sibuk memperpanjang “usia” fisik, namun
mengeringkan “hati” dari nilai-nilai luhur dan kasih sayang. Ini adalah potret zuhud yang
terkikis, di mana ambisi duniawi mengalahkan nilai-nilai keimanan.

Sebaliknya, perjuangan mereka yang “miskin waktu” seringkali justru menghadirkan
hikmah yang mendalam. Mereka dipaksa untuk menghargai setiap detik, tidak ada ruang
untuk menunda kebaikan atau menyia-nyiakan momen. Setiap tindakan, setiap interaksi,
memiliki bobot yang besar. Ini mengingatkan kita pada sabda Nabi Muhammad SAW,
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu,
sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu,
dan hidupmu sebelum matimu” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi). Hadis ini adalah
panduan emas bagi setiap Muslim untuk mengelola waktu sebagai bekal akhirat. Kisah
tersebut secara brutal menunjukkan konsekuensi dari kegagalan memanfaatkan “waktu
luang” di dunia yang serakah.

Secara religius, jika kita membayangkan waktu hidup kita selalu terpampang di lengan
kita, maka saya yakin itu akan menjadi pengingat kita untuk selalu melakukan introspeksi
dan muhasabah diri. Apakah kita terlalu sibuk mengejar “waktu” dalam bentuk materi dan
status, hingga melupakan bahwa waktu sejatinya adalah ladang amal untuk kehidupan
yang kekal? Apakah kita terjebak dalam sistem yang tanpa sadar menjauhkan kita dari
nilai-nilai spiritual, menciptakan ketidakadilan yang merugikan sesama? Bagaimana kita
memanfaatkan waktu antara adzan dan iqamah, atau di sepertiga malam terakhir, adalah
cerminan dari kesadaran kita akan amanah ini.

Jika ada pergolakan dalam mendistribusikan kembali waktu dalam film tersebut, hal itu
bisa dimaknai sebagai perjuangan untuk menegakkan keadilan Ilahi di muka bumi. Ini
adalah panggilan bagi setiap individu Muslim untuk tidak pasif terhadap ketimpangan,
untuk menyuarakan kebenaran, dan untuk berperan aktif dalam menciptakan masyarakat
yang lebih berimbang dan berpihak pada kaum yang tertindas. Seperti yang diajarkan
dalam banyak agama, menolong sesama dan mendistribusikan rezeki adalah bentuk
ibadah dan amal saleh yang mulia.

Pada akhirnya, gambaran ini bisa menjadi pengingat yang mengharukan bahwa waktu
adalah karunia tak ternilai dari Tuhan. Ia bukanlah milik kita untuk dikuasai atau
dimonopoli, melainkan amanah untuk diisi dengan keimanan, ketaqwaan, dan amal
kebaikan. Ia adalah kesempatan untuk berbuat kebajikan, menebar kasih sayang, dan
mempersiapkan diri untuk perjalanan abadi yang melampaui segala hitungan di
pergelangan tangan. Ini mengajak kita untuk menyadari bahwa keabadian sejati bukanlah
terletak pada sisa waktu di pergelangan tangan, melainkan pada kualitas amal dan
kebersihan hati di hadapan Sang Pencipta.

Penulis: BMEditor: MaritimPost.Com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow by Email
Instagram