Hadapi Ancaman Keselamatan dan Keamanan, Bandara SAMS Sepinggan Uji Kesiapan Lintas Instansi

MARITIMPOST.Com, Balikpapan — Menghadapi dinamika ancaman keselamatan dan keamanan penerbangan yang terus berkembang, Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan memperkuat kesiapsiagaan melalui latihan penanganan keadaan darurat dan keamanan secara terpadu.

PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) Kantor Cabang Bandar Udara Internasional SAMS Sepinggan Balikpapan menggelar Airport Emergency Committee (AEC) Meeting, Airport Security Committee (ASC) Meeting Ke-III, serta Table Top Exercise Tahun 2026 di Gedung Serbaguna Bandara SAMS Sepinggan.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi forum koordinasi rutin, tetapi juga menjadi sarana untuk menguji kesiapan komunikasi, pembagian peran, serta mekanisme pengambilan keputusan antarpemangku kepentingan ketika terjadi keadaan darurat maupun ancaman keamanan di kawasan bandara.

General Manager Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan, R. Iwan Winaya Mahdar, mengatakan perubahan dan perkembangan potensi ancaman terhadap penerbangan sipil membutuhkan kesiapan seluruh pihak yang terlibat dalam operasional bandara.

“Dinamika ancaman terhadap keselamatan dan keamanan penerbangan sipil terus berkembang dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, sinergi dan kolaborasi antar seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) bandara merupakan hal yang mutlak,” ujar Iwan.

Menurut Iwan, kesiapsiagaan tersebut perlu dibangun melalui latihan dan koordinasi yang dilakukan secara berkala. Setiap instansi yang terlibat harus memahami tugas dan tanggung jawabnya, termasuk ketika kondisi darurat membutuhkan respons secara cepat dan terkoordinasi.

“Sesuai ketentuan, Airport Emergency Committee Meeting dilaksanakan minimal satu kali dalam setahun dan dirangkaikan dengan Table Top Emergency Exercise. Sementara itu, berdasarkan KM 39 Tahun 2024, pertemuan komite keamanan bandara dilakukan minimal empat kali dalam setahun, di mana pertemuan ke-III tahun ini kami padukan dengan Table Top Security Exercise,” terang Iwan.
Dalam Table Top Exercise, peserta dihadapkan pada skenario keadaan darurat dan potensi ancaman keamanan untuk membahas langkah penanganan sesuai fungsi masing-masing. Simulasi tersebut menjadi ruang untuk mengidentifikasi kebutuhan koordinasi sekaligus memastikan setiap unsur memahami prosedur yang harus dijalankan.

“Melalui simulasi Table Top Exercise, seluruh anggota komite diajak menyamakan pemahaman mengenai peran, fungsi, dan tanggung jawab masing-masing instansi saat menghadapi kondisi darurat kecelakaan maupun potensi ancaman keamanan di area bandara,” tambah Iwan.

Forum tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan yang memiliki peran dalam penanganan keadaan darurat, keselamatan, maupun keamanan penerbangan di Balikpapan dan Kalimantan Timur.

Sejumlah instansi yang hadir antara lain Komandan Lanud Dhomber Balikpapan, perwakilan Otoritas Bandara Wilayah VII, Polresta Balikpapan, Kodim 0905 Balikpapan, Ditpolairud Polda Kaltim, Balai Karantina, Basarnas, BMKG, AirNav Indonesia, perwakilan maskapai penerbangan, serta jajaran rumah sakit dan puskesmas rujukan setempat.

Keterlibatan lintas instansi tersebut diperlukan karena penanganan keadaan darurat penerbangan tidak dapat dilakukan oleh pengelola bandara secara sendiri. Respons terhadap insiden dapat melibatkan unsur keselamatan penerbangan, keamanan, kesehatan, pencarian dan pertolongan, informasi cuaca, hingga dukungan aparat dan fasilitas kesehatan.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam diskusi adalah mekanisme komunikasi ketika terjadi kondisi darurat. Para peserta menyepakati pentingnya jalur komunikasi yang jelas dan efektif agar informasi dapat diterima oleh pihak terkait secara cepat dan tepat.

Selain itu, penyiapan perangkat Radio HT antarinstansi juga menjadi bagian yang dibahas untuk mendukung komunikasi operasional ketika situasi membutuhkan koordinasi langsung di lapangan.

Peserta juga membahas pentingnya penentuan transisi status keamanan secara jelas. Kejelasan status diperlukan agar setiap unsur yang terlibat dapat segera mengambil langkah sesuai kewenangan dan prosedur yang berlaku.

Respons cepat menjadi aspek lain yang mendapat perhatian. Setiap tindakan dalam kondisi darurat harus tetap mengacu pada standar operasional penerbangan sehingga penanganan dapat dilakukan secara terkoordinasi tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan keamanan.

Pelaksanaan AEC Meeting, ASC Meeting Ke-III, dan Table Top Exercise Tahun 2026 sekaligus menjadi bagian dari upaya Bandara SAMS Sepinggan untuk memperkuat kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat mengganggu keselamatan, keamanan, maupun kelancaran operasional penerbangan.

Dengan melibatkan berbagai unsur terkait, kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman bersama mengenai mekanisme penanganan keadaan darurat dan ancaman keamanan. Koordinasi yang terbangun juga menjadi bagian penting dalam memastikan setiap pemangku kepentingan dapat bergerak sesuai peran dan tanggung jawabnya ketika menghadapi kondisi yang membutuhkan respons cepat.

Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan menegaskan bahwa kesiapsiagaan dan kolaborasi lintas instansi menjadi bagian penting dalam menjaga standar keselamatan dan keamanan penerbangan di salah satu gerbang utama transportasi udara Kalimantan Timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Template Broadcast Berita

🔵 Berita Terbaru MaritimPost.comBaca selengkapnya:
Follow by Email
Instagram