Pose Terbaik Potret Kita

Oleh: Budi Muhaeni

Sebagai seorang muslim, kita percaya bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang menjadi
pedoman hidup. Di dalamnya, Allah menuntun kita menuju jalan yang lurus, memberikan petunjuk, dan mengarahkan kita pada kebenaran. Namun, ada satu hal yang mungkin luput dari perhatian kita:
Allah tidak hanya memberikan Al-Qur’an, melainkan mewariskannya.

Hal ini tercantum dalam QS Fatir ayat 32, di mana Allah berfirman: “Tsumma awrastnal-kitaaballadziinashtafainaa min ‘ibaadinaa…”

Artinya: “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara
hamba-hamba Kami…”

Kata mewariskan di sini memiliki makna yang sangat mendalam. Dalam hukum Islam, warisan
adalah harta yang ditinggalkan oleh seseorang yang meninggal, dan hanya dibagikan kepada ahli
waris, yaitu anggota keluarga tertentu dengan bagian yang telah ditetapkan. Dengan menggunakan kata ini, Allah seolah ingin menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukanlah hadiah biasa yang diberikan
kepada semua orang, melainkan warisan yang diberikan kepada mereka yang terpilih, kepada “ahli
waris” yang Allah pilih sendiri.

Jika saat ini kita telah diberi hidayah dan diwariskan Al-Qur’an, itu artinya kita termasuk orang-orang yang dipilih Allah. Ini adalah anugerah yang luar biasa, sebuah kehormatan yang patut kita syukuri.

Tiga Pose di Hadapan Juru Potret

Dalam ayat tersebut, Allah tidak hanya memilih ahli waris-Nya, tetapi juga “memotret” mereka dalam tiga pose yang berbeda. Ketiga pose ini menggambarkan tiga tipe hamba:

1. Orang yang dholim pada dirinya sendiri. Mereka tahu isi Al-Qur’an, tetapi mereka memilih untuk menentang dan melanggarnya. Mereka adalah orang-orang yang
mengabaikan petunjuk dari Allah.
2. Orang yang sedang-sedang saja. Mereka adalah hamba yang kadang taat, kadang
melanggar. Ketaatan mereka tidak konsisten, dan kebaikan yang mereka lakukan sering kali
bercampur dengan dosa.
3. Orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan. Mereka adalah hamba yang paling istimewa. Mereka menjalankan setiap perintah Allah, menjauhi setiap larangan, dan meyakini setiap kisah yang ada di dalam Al-Qur’an. Mereka selalu berusaha menjadi yang
terbaik dalam beribadah.

Kita semua sedang berada di depan “juru potret” agung, yaitu Allah SWT. Dan setiap detik kehidupan kita adalah momen yang direkam-Nya. Allah telah mengabarkan bahwa sang juru potret
pasti datang, dan Dia tidak pernah ingkar janji. Namun, kapan Dia datang, tidak ada yang tahu.

Ini menjadi pengingat bagi kita semua. Mengapa kita harus selalu berusaha berada dalam pose
terbaik? Karena kita tidak pernah tahu kapan “juru potret” itu akan mengambil gambar terakhir kita.

Mengabadikan Pose Terbaik

Atsar dari sahabat Nabi Muhammad SAW mengabarkan sebuah hikmah yang mendalam:
“Wa minhum man yuladu mu’minan wa yahya mu’minan wa yamutu mu’minan…”

Artinya: “Dan di antara manusia ada yang dilahirkan dalam keadaan beriman, hidup dalam
keadaan beriman, dan meninggal dalam keadaan beriman.”

Inilah kombinasi terbaik dari kehidupan. Apalagi saat ini kita telah berada dalam keimanan. Dengan
begitu, kita hanya tinggal selangkah lagi menuju kombinasi terbaik. Apapun kondisi kelahiran kita,
itu tidak lagi penting, yang perlu kita waspadai kehidupan kita yang sedang dalam keimanan ini,
namun yang terpenting adalah perjuangan kita untuk mati dalam keadaan iman, atau husnul
khatimah.

Itulah perjuangan orang-orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan. Mereka berusaha sekuat
tenaga untuk selalu berada dalam pose terbaik, sehingga ketika Allah mengambil gambar terakhir mereka, gambar yang terekam adalah gambar kebaikan, ketaatan, dan keimanan. Gambar yang akan
mengabadikan mereka di sisi Allah SWT selamanya.

Jadi, pose manakah yang sedang kita tampilkan di hadapan Allah saat ini?.

Penulis: BMEditor: MaritimPost.Com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow by Email
Instagram