Oleh: Budi Muhaeni
Setiap kali kita merenung tentang hakikat diri, kita akan tersadar bahwa kita adalah makhluk ciptaan Alloh yang paling sempurna. Namun, terkadang, kesadaran itu datang bukan dari membaca kitab tebal, melainkan dari sebuah momen sederhana.
Beberapa waktu lalu, di penghujung bulan, anak saya mengirim pesan. Ia mengatakan uang sakunya habis dan meminta izin untuk mengirimkan uang Rp100 ribu sebagai “panjar” jatah bulan depan, hanya untuk menutupi kebutuhannya di dua hari tersisa. Tanpa berpikir panjang, saya transfer. Namun, ketika ia membalas dengan ucapan “Terima kasih dan alhamdulillah, Ayah. Aku sangat bersyukur,” tiba-tiba hati saya terharu dan bangga.
Lalu, sebuah pikiran melintas: Mungkin beginilah suasana batin Alloh. Perasaan senang ketika anak datang meminta karena ia tahu ayahnya mampu, dan rasa bahagia ketika anak itu mensyukuri pemberian yang sederhana. Dan mungkin, begitulah pula murka Alloh yang disebabkan oleh hamba-Nya yang enggan berdoa dan bersyukur, padahal ia amat sangat membutuhkan-Nya.
Peristiwa kecil itu membawa saya kembali merenung pada hakikat kita sebagai manusia.
Akal, Nafsu, dan Keagungan Kita
Alloh menganugerahkan kepada kita akal untuk berpikir, menimbang, dan memilih, sekaligus hawa nafsu yang menjadi ujian dalam perjalanan hidup. Perpaduan akal dan nafsu itulah yang menempatkan kita di tengah. Jika akal mampu menundukkan hawa nafsu, maka kita bisa naik derajatnya. Namun, jika hawa nafsu yang berkuasa, kita bisa jatuh lebih rendah. Di sinilah letak keagungan sekaligus tantangan hidup kita.
Dalam keseharian, kita bisa merasakan bagaimana Alloh memberi kesempatan kepada manusia untuk mencicipi beragam rasa dan sifat alami—termasuk kasih sayang, empati, dan keinginan berbagi. Sifat-sifat inilah yang merupakan cerminan kecil dari sifat Ar-Rahman (Maha Pengasih) Alloh yang dititipkan pada hamba-Nya.
Perhatikanlah betapa nyatanya kasih sayang ini: semua induk hewan memiliki naluri untuk melindungi anak-anaknya. Begitu pula kasih sayang seorang ibu atau ayah, yang menjadi energi tak ternilai untuk bekerja keras dan menahan lelah demi kebahagiaan keturunannya. Pengorbanan mereka mengajarkan kita bahwa kasih sejati itu haruslah memberi, bukan menuntut.
Rezeki yang Tak Terhitung
Kasih sayang ini adalah rahmat Alloh yang nyata. Dengannya, semua makhluk dapat bertahan hidup dalam siklus yang sempurna. Hewan yang merayap di tanah tetap memiliki rezeki, meskipun makanannya adalah hewan yang bisa terbang. Tumbuhan pun tumbuh di celah-celah bebatuan, tetap mendapat air dan cahaya yang cukup. Alloh telah mengatur kehidupan dengan penuh harmoni, sehingga semua makhluk dapat melanjutkan hidupnya sesuai dengan takdirnya. Sungguh indah bila kita mau merenunginya.
Lalu, jika rezeki alam saja begitu teratur dan melimpah, mengapa kita sering merasa kurang dan lupa bersyukur? Jawabannya ada pada pintu terluas menuju Alloh: doa dan syukur.
Kewajiban untuk Mencari Jalan Syukur
“Allah murka kepada hamba yang enggan berdoa,” sabda Rosululloh ﷺ. Murka itu hadir bukan karena Allah butuh permintaan kita, melainkan karena doa adalah wujud pengakuan bahwa kita butuh kepada-Nya. Ini sama persis dengan perasaan bangga seorang ayah ketika anaknya datang meminta karena tahu ayahnya mampu membantu. Doa adalah bukti kerendahan hati kita.
Dan betapa bahagianya seorang ayah ketika anaknya mengucapkan terima kasih, meski atas bantuan yang sederhana. Rasa syukur dari anak itu membuat sang ayah merasa dihargai. Begitu pula Alloh, yang Maha Sempurna, tentu lebih mencintai hamba-Nya yang mampu bersyukur atas setiap nikmat, walau kecil sekalipun.
Namun, kesadaran bahwa Allah Maha Kasih saja tidak cukup. Kita memiliki tugas untuk senantiasa mencari jalannya bersyukur. Kita harus mengingat bahwa nikmat dan karunia Alloh kepada kita tak terhitung jumlahnya. Keberadaan kita hari ini, nafas yang kita hirup, penglihatan yang sempurna, hingga kemampuan berakal, semuanya adalah bukti kasih sayang yang abadi. Mencari jalan bersyukur berarti mewujudkan rasa terima kasih itu dalam tindakan, baik dengan lisan, hati, maupun dengan menggunakan nikmat tersebut di jalan kebaikan.
Maha Suci Alloh, Dzat yang telah memberi kesempatan kepada kita untuk mencicipi rasa kasih sayang-Nya melalui peran kita sebagai orang tua, dan mengajarkan kita bagaimana rasanya menjadi hamba yang dicintai. Sebuah rasa yang begitu dalam, yang membuat kita tersadar bahwa hidup ini bukan sekadar tentang kita, tetapi tentang hubungan dengan Alloh dan makhluk-Nya. Dan aku bertanya kepada diriku sendiri, juga kepada kalian: apakah kalian pun merasakan betapa besar kasih sayang Alloh dalam hidup kalian?.













