Kilang Pertamina Balikpapan Masuki Tahap Akhir RDMP, Siap Operasi Akhir 2025

MARITIMPOST.Com, Balikpapan PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) terus memantapkan langkah menuju fase operasi proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dan Lawe-Lawe. Proyek yang termasuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) ini kini memasuki tahap akhir pembangunan dan menjadi tonggak penting modernisasi kilang Pertamina.

Fokus utama pengerjaan saat ini adalah kesiapan unit Residue Fluid Catalytic Cracking (RFCC) yang akan segera memasuki tahap commissioning dan start-up. Proyek RDMP Balikpapan dirancang untuk meningkatkan kapasitas, kualitas, dan kompleksitas pengolahan minyak di kilang tersebut.

Vice President (VP) Legal & Relation PT KPB, Asep Sulaeman, menjelaskan bahwa proyek dijalankan melalui tiga lingkup utama pekerjaan, yaitu Early Works, Engineering Procurement Construction (EPC) ISBL–OSBL, dan EPC Lawe-Lawe.

“Seluruh pekerjaan di proyek RDMP Balikpapan dan Lawe-Lawe dilakukan secara bertahap dan terintegrasi,” jelas Asep.

Tahap pertama, Early Works, menjadi pondasi awal megaproyek dengan 16 paket pekerjaan pendahuluan, meliputi persiapan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, utilitas sementara, dan fasilitas penunjang konstruksi.

“15 paket pekerjaan pendahuluan ini telah tuntas, dan saat ini tersisa pekerjaan tambahan berupa modifikasi tangki yang berjalan secara paralel,” tambahnya.

Untuk lingkup EPC ISBL (Inside Battery Limit) dan OSBL (Outside Battery Limit), pembangunan difokuskan pada 39 unit, terdiri dari 21 unit proses baru, 13 unit utilitas dan fasilitas pendukung baru, serta 5 unit revamp dari fasilitas yang sudah ada. Sebagian besar unit utilitas dan fasilitas pendukung kini memasuki tahap uji peralatan dan awal pengoperasian.

Selain itu, penguatan jaringan rantai pasok minyak mentah juga dilakukan melalui EPC Lawe-Lawe. Lingkup pekerjaan ini mencakup pembangunan dua tangki penyimpanan crude oil berkapasitas masing-masing 1 juta barel, jaringan pipa transfer line onshore–offshore berdiameter 20 inci, unloading line 52 inci, serta fasilitas Single Point Mooring (SPM) berkapasitas 320.000 DWT.

Asep mengakui, kompleksitas proyek menjadi tantangan tersendiri karena seluruh pekerjaan konstruksi dilakukan di tengah operasional kilang yang tetap berjalan.

“Ini bukan hanya proyek besar dari sisi nilai investasi dan jumlah unit, tetapi juga dari sisi teknis. Tim proyek harus bekerja dengan presisi tinggi karena seluruh pekerjaan dilakukan berdampingan dengan kilang yang masih beroperasi,” ujarnya.

Selain memastikan penyelesaian konstruksi, KPB juga menempatkan keselamatan kerja sebagai prioritas utama. Setiap aktivitas proyek dijalankan sesuai Corporate Life Saving Rules (CLSR) dan standar keselamatan internasional.

“Kami memastikan seluruh kegiatan pembangunan dijalankan dengan prinsip safety first dan persiapan menyeluruh sebelum memasuki tahap uji coba peralatan,” tegasnya.

Hingga pekan ketiga Oktober 2025, progres pembangunan RDMP Balikpapan telah mencapai 96,80 persen, dengan sebagian besar pekerjaan fisik selesai. Proyek kini mulai memasuki fase pengujian peralatan (commissioning) sebagai langkah menuju start-up dan operasi penuh.

“Kami sudah berada di tahap penting menuju fase operasi pada akhir 2025. RDMP Balikpapan adalah simbol kemandirian energi Indonesia hasil karya anak bangsa,” tutup Asep.

Penulis: AdminEditor: MaritimPost.Com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Template Broadcast Berita

🔵 Berita Terbaru MaritimPost.comBaca selengkapnya:
Follow by Email
Instagram