MARITIMPOST.Com, Berau – Kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) selama ini identik dengan keterbatasan akses dan jauhnya jarak dari pusat pertumbuhan ekonomi. Namun perkembangan teknologi digital mulai mengubah wajah wilayah-wilayah tersebut, termasuk Pulau Maratua di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Konektivitas internet yang semakin baik dinilai membuka peluang baru bagi sektor pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif untuk berkembang lebih cepat. Wilayah yang sebelumnya berada di pinggiran kini memiliki kesempatan menjangkau pasar yang lebih luas melalui platform digital.
Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadhilah Mathar, mengatakan pembangunan infrastruktur telekomunikasi di kawasan 3T tidak hanya bertujuan mengatasi kesenjangan akses komunikasi, tetapi juga mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi baru di daerah.
“Wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar harus dipandang sebagai beranda depan Indonesia. Dengan dukungan konektivitas digital, masyarakat dapat mengembangkan potensi ekonomi lokal hingga menjangkau pasar yang lebih luas,” kata Fadhilah saat kegiatan BAKTI Infrastructure Tour 2026 di Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Rabu (10/6/2026).
Menurut dia, digitalisasi telah mengubah cara masyarakat menjalankan usaha. Pelaku UMKM kini dapat memasarkan produk secara langsung kepada konsumen melalui berbagai platform digital tanpa harus bergantung pada pasar lokal.
Selain itu, internet juga membuka peluang bagi berkembangnya sektor ekonomi kreatif, industri konten, dan berbagai layanan berbasis teknologi yang sebelumnya sulit tumbuh di wilayah terpencil.
“Pelaku usaha yang memanfaatkan digitalisasi memiliki peluang pertumbuhan lebih cepat dibandingkan yang masih mengandalkan cara konvensional. Banyak potensi ekonomi yang bisa dimonetisasi melalui platform digital,” ujarnya.
Pulau Maratua menjadi salah satu daerah yang mulai merasakan dampak tersebut. Destinasi wisata yang dikenal dengan keindahan laut dan ekosistem bawah airnya itu semakin mudah dikenal wisatawan berkat promosi digital yang dilakukan oleh pelaku usaha dan masyarakat setempat.
Akses internet memungkinkan promosi destinasi wisata dilakukan secara lebih luas dan murah. Homestay, operator wisata, hingga pelaku usaha kecil dapat menjangkau calon wisatawan tanpa harus mengeluarkan biaya promosi yang besar.
“Maratua memiliki kekayaan wisata bahari yang sangat besar. Ketika konektivitas hadir, promosi menjadi lebih mudah dan masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan usahanya,” jelasnya.
Perkembangan sektor pariwisata di Berau menunjukkan tren yang positif dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan kunjungan wisatawan turut mendorong pertumbuhan sektor pendukung seperti penginapan, transportasi, kuliner, dan jasa wisata.
Di sisi lain, perluasan infrastruktur digital terus dilakukan untuk memastikan manfaat teknologi dapat dirasakan lebih merata. BAKTI Komdigi saat ini telah mengoperasikan ratusan titik layanan internet berbasis satelit di Kalimantan Timur yang melayani sekolah, puskesmas, kantor pemerintahan, hingga fasilitas publik lainnya.
Meski demikian, Fadhilah menilai pembangunan jaringan telekomunikasi tidak dapat berdiri sendiri. Pemanfaatan internet secara produktif membutuhkan peningkatan kapasitas masyarakat agar teknologi benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan.
“Konektivitas adalah fondasi. Setelah akses tersedia, yang tidak kalah penting adalah bagaimana masyarakat memanfaatkannya untuk kegiatan produktif yang memberikan nilai tambah ekonomi,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya data sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan. Menurutnya, banyak perubahan ekonomi yang terjadi di masyarakat belum terdokumentasi secara memadai sehingga sulit diukur dampaknya.
“Sering kali perubahan ekonomi sudah terjadi, tetapi belum terdokumentasi dengan baik. Data yang kuat akan membantu melihat sejauh mana digitalisasi memberikan dampak bagi masyarakat,” tutup Fadhilah.
Bagi daerah seperti Maratua, digitalisasi tidak lagi sekadar menghadirkan akses internet. Kehadirannya mulai menjadi katalis pertumbuhan ekonomi, memperkuat daya saing daerah, dan membuka peluang baru bagi masyarakat di wilayah yang selama ini berada jauh dari pusat pembangunan nasional.













