Arus Peti Kemas Meningkat, Sinyal Kuat Ekonomi di Tengah Krisis Global

MARITIMPOST.Com, Surabaya Industri logistik global tengah menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya energi, gangguan rantai pasok, serta ketegangan geopolitik. Namun di tengah kondisi tersebut, kinerja terminal peti kemas di dalam negeri justru menunjukkan tren positif pada triwulan I 2026.

Data PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) mencatat sedikitnya 10 terminal peti kemas (TPK) mampu melampaui target hingga Maret 2026. TPK Nilam mencatat capaian tertinggi sebesar 118,24 persen, disusul TPK Semarang 117,26 persen, TPK Sorong 109,02 persen, TPK Kendari 107,03 persen, TPK Teluk Lamong 105,1 persen, TPK Merauke 103,86 persen, TPK Surabaya 102,09 persen, TPK Jayapura 101,36 persen, TPK Makassar 100,75 persen, dan IPC Terminal Petikemas 100,6 persen.

Capaian tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas bongkar muat serta arus distribusi barang di berbagai wilayah, termasuk kawasan Indonesia Timur.

Salah satu peningkatan signifikan terjadi di Merauke. PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) mencatat arus peti kemas naik sekitar 10 persen. Kepala Cabang SPIL Merauke, Puji Harmoko, menyebut lonjakan ini dipengaruhi status Merauke sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).

“Peningkatan ini seiring penetapan Merauke sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Banyak material pembangunan dan alat berat masuk dari Pulau Jawa,” jelas Puji Harmoko, Senin (20/4/2026).

Ia juga menambahkan adanya perubahan jenis komoditas yang masuk ke wilayah tersebut. “Komoditas seperti buah, bawang, hingga hasil perkebunan mulai berdatangan dalam jumlah lebih besar, membuka potensi ekonomi baru bagi wilayah paling timur Indonesia tersebut,” ucapnya.

Meski demikian, peningkatan arus logistik dinilai belum cukup tanpa dukungan infrastruktur dan kebijakan yang memadai. Tanpa hal tersebut, beban logistik berpotensi tetap tinggi dan menekan pelaku usaha maupun masyarakat.

Di sisi lain, TPK Sorong mencatat throughput sebesar 16.131 TEUs atau tumbuh 10 persen dibandingkan target hingga Maret 2026 sebesar 14.616 TEUs. Pertumbuhan ini didorong oleh momentum angkutan barang selama periode Hari Raya Idulfitri serta perubahan pola distribusi kapal PT SPIL yang kini melalui Pelabuhan Sorong.

Terminal Head TPK Sorong, Welta Selfie, menilai peningkatan tersebut tidak lepas dari transformasi operasional yang dilakukan. “Pelabuhan Sorong yang sebelumnya beroperasi secara konvensional kini telah berkembang menjadi terminal petikemas yang lebih modern dan terstandarisasi,” ujarnya.

Dari perspektif global, Senior Vice President International Federation of Freight Forwarders Associations (FIATA), Yukki Nugrahawan Hanafi, menilai tekanan yang terjadi saat ini justru menjadi momentum untuk mempercepat transformasi logistik nasional, terutama melalui integrasi multimoda dan pemanfaatan teknologi.

“Pendekatan transportasi multimoda bukan lagi pilihan dalam penguatan sistem logistik nasional, melainkan kebutuhan agar menjadi lebih kompetitif dan resilien. Namun, integrasi fisik pada pembangunan infrastruktur saja tidak cukup, dimana hal ini harus didukung oleh pemanfaatan teknologi, khususnya AI,” jelas Yukki dalam keterangan tertulis, Selasa (21/4/2026).

Ia menambahkan bahwa integrasi digital melalui platform seperti National Logistics Ecosystem (NLE) menjadi langkah strategis dalam meningkatkan visibilitas rantai pasok nasional.

“Dengan menggabungkan kekuatan multimoda, integrasi supply chain, dan pemanfaatan AI, Indonesia memiliki peluang besar untuk mempercepat transformasi logistik nasional. Ini bukan hanya tentang menurunkan biaya, tetapi juga meningkatkan daya saing dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” ujar Yukki.

Pakar ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Profesor Rossanto Dwi Handoyo, menegaskan sektor logistik, khususnya pelabuhan peti kemas, tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Hal ini sejalan dengan karakter Indonesia sebagai negara kepulauan yang sangat bergantung pada transportasi laut.

“Sebagian besar distribusi barang, baik domestik maupun internasional, melalui jalur laut. Pelabuhan menjadi simpul utama yang menggerakkan ekonomi,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).

Menurutnya, keterbatasan kapasitas angkutan udara dan biaya yang tinggi membuat distribusi skala besar tetap mengandalkan jalur laut. Ia menilai peningkatan arus peti kemas di sejumlah terminal sebagai indikator positif bagi pergerakan ekonomi, termasuk di kawasan Indonesia Timur.

Rossanto juga menekankan pentingnya percepatan digitalisasi di sektor logistik. Teknologi dinilai mampu meningkatkan efisiensi dan menekan biaya operasional.

“Digitalisasi akan memangkas waktu tunggu, mempercepat proses bongkar muat, dan meningkatkan transparansi. Ini sangat penting untuk daya saing. Selain itu, integrasi sistem logistik juga dinilai penting agar arus barang dapat dipantau secara real time dan lebih terkoordinasi,” ulasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Template Broadcast Berita

🔵 Berita Terbaru MaritimPost.comBaca selengkapnya:
Follow by Email
Instagram