MARITIMPOST.Com, Indramayu – PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling) berhasil melaksanakan Water Injectivity Test (WIT) perdana di Sumur JTB-156, Lapangan Jatibarang, Pertamina EP Regional 2 Zona 7, Selasa (14/7/2026). Pengujian ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan implementasi Carbon Capture and Storage (CCS) di lingkungan Pertamina Group.
Pelaksanaan WIT merupakan hasil kolaborasi PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Hulu Energi (PHE), PT Pertamina EP Regional 2 Zona 7, dan Pertamina Drilling dalam mendukung pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon.
Vice President Business Development Pertamina Drilling, Dedi Damhuri, mengatakan perusahaan terus memperkuat dukungan terhadap pengembangan CCS dan Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) melalui layanan Integrated CCS/CCUS Engineering, Supervisory & Services (ICESS).
“Melalui ICESS, Pertamina Drilling menghadirkan one-stop-service yang menyediakan solusi terintegrasi untuk mendukung pengembangan CCS/CCUS di Pertamina Group,” ujar Dedi.
Selain mendukung kesiapan implementasi CCS, WIT juga menjadi bagian dari program Waterflood Optimization (WFO) dengan memanfaatkan air hasil pengolahan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Balongan. Data yang diperoleh dari pengujian tersebut akan menjadi dasar pengembangan WFO sekaligus referensi dalam mengevaluasi kemampuan reservoir menerima injeksi karbon dioksida (CO₂) pada proyek CCS di masa mendatang.
Principle Specialist Upstream Innovation and Low Carbon PT Pertamina (Persero), Dewi Mersitarini, menjelaskan pengujian WIT menargetkan pemompaan hingga 600 barel air dengan tekanan operasi di bawah fracture pressure. Kegiatan tersebut diperkirakan berlangsung selama satu hingga dua hari.
“Kolaborasi Pertamina Group pada kegiatan ini menjadi kunci dalam menyiapkan implementasi CCS dan CCUS dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan kerja. Hasil WIT akan dimanfaatkan sebagai data analog untuk memperkuat evaluasi dan simulasi kemampuan reservoir dalam menerima serta menyimpan CO₂ untuk tujuan penyimpanan permanen maupun upaya peningkatan produksi,” ujar Dewi.
“Dengan demikian, tingkat keyakinan terhadap kemampuan injeksi dan penyimpanan reservoir akan meningkat sekaligus menurunkan risiko kegagalan operasi yang berdampak pada investasi,” tambahnya.













